"T.E.A.M = Together Everyone Achieves More/Bersama semua orang
mencapai yang lebih baik."
gambar diambil dari sini
Kangen
sekangen-kangennya permainan yang satu ini.Ya,main karet.Kalau nama umumnya ‘lompat
tali’,aku menyebut namanya ‘main karet’ karena istilah tersebut lebih terkenal
di daerah asalku.Terus,di masa kecilku memang permainannya menggunakan karet gelang
yang dipilin,pastinya karet yang dibutuhkan sangat banyak jumlahnya.Nah,aku
bakal menceritakan sedikit tentang memori ‘main karet’ ku..
Masa Sekolah
Dasar adalah masa yang sarat dengan bermain-main bersama teman-temanku dulu.
Aku awalnya belum mengerti main karet karena susah amat -_- tapi berkat
teman-teman yang selalu mengajarku bagaimana melompat,akhirnya aku bisa,mulai
dari lompatan lambat hingga bisa melompat lebih cepat.Cuma itu aja teknik
permainnya : melompat kalau tali karet berayun di bawah kedua kaki. Saat aku
yang menjadi pelompat,maka dua orang temanku yang jadi pengayun talinya.Suatu
ketika aku melompat,kedua temanku mengayun sangat kencang,nah disitu aku
kewalahan,kok kencang amat ya..akhirnya tali itu tersangkut di kakiku. Kalah
deeehhhh...heheheheh oh iya,main karet yang satu ini ada dua cara: cara sendiri
(perorangan) dan cara berkelompok. Aku senangnya cara berkelompok,karena dengan
cara ini,rasa kerja sama yang baik timbul,sehingga permainan terasa menyenangkan..
Jenis lompat tali yang aku maksud di atas adalah jenis skipping. Ada lagi jenis lompat tali lain,namanya lompat tali merdeka. Ini juga pernah aku mainkan dengan teman-teman masa kecil,bedanya dengan skipping adalah teknik lompat merdeka yang mengharuskan seorang pelompat untuk melompat setinggi mungkin. Kemudian,tali karet yang digunakan bukan diayunkan,tapi diregangkan dalam posisi diam dan ujung tali karet diletakkan di atas kepala,dagu,dan bahu.
gambar diambil dari sini
Ternyata,main
karet punya manfaat positif,antara lain:
1. Motorik
kasar
Main lompat tali merupakan suatu kegiatan yang
baik bagi tubuh. Secara fisik anak jadi lebih terampil, karena bisa belajar
cara dan teknik melompat yang dalam permainan ini memang memerlukan
keterampilan sendiri. Lama- lama, bila sering dilakukan, anak dapat tumbuh
menjadi cekatan, tangkas dan dinamis. Otot-ototnya pun padat dan berisi, kuat
serta terlatih. Selain melatih fisik, mainan ini juga bisa membuat anak – anak
mahir melompat tinggi dan mengembangkan kecerdasan kinestetik anak. Lompat tali
juga dapat membantu mengurangi obesitas pada anak.
2. Emosi
Untuk melakukan suatu lompatan dengan
ketinggian tertentu dibutuhkan keberanian dari anak. Berarti, secara emosi ia
dituntut untuk membuat suatu keputusan besar, mau melakukan tindakan melompat
atau tidak. Dan juga saat bermain, anak – anak akan melepaskan emosinya. Mereka
berteriak, tertawa dan bergerak.
3. Ketelitian dan Akurasi
Anak juga belajar melihat suatu ketepatan dan
ketelitian. Misalnya, bagaimana ketika tali diayunkan, ia dapat melompat
sedemikian rupa sehingga tidak sampai terjerat tali dengan berusaha mengikuti
ritme ayunan. Semakin cepat gerak ayunan tali, semakin cepat ia harus melompat.
4. Sosialisasi
Untuk bermain tali secara berkelompok, anak
membutuhkan teman yang berarti memberi kesempatannya untuk bersosialisasi
sehingga ia terbiasa dan nyaman dalam kelompok. Ia dapat belajar berempati,
bergiliran, menaati aturan dan yang lainnya.
5. Intelektual
Saat melakukan lompatan, terkadang anak perlu
berhitung secara matematis agar lompatannya sesuai dengan jumlah yang telah
ditentukan dalam aturan permainan. Umpamanya, anak harus melakukan lima kali
lompatan saat tali diayunkan, bila lebih atau kurang ia harus gantian menjadi
pemegang tali. Anak juga secara tidak langsung belajar dengan cara melihat dari
teman – temannya agar bisa mahir dalam melakukan permainan tersebut.
6. Moral
Dalam permainan tradisional mengenal konsep
menang atau kalah. Namun, menang atau kalah tidak menjadikan para pemainnya
bertengkar, mereka belajar untuk bersikap sportif dalam setiap permainan. Dan
juga tidak ada yang unggul, karena setiap orang punya kelebihan masing – masing
untuk setiap permainan, hal tersebut meminimalisir ego di diri anak-anak
Ga nyangka aku udah remaja. Terimakasih buat masa kecil dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Terimakasih sudah mengajariku apa arti kerjasama melalui permainan ini. Ini akan jadi kenangan yang ga akan terlupakan..
Las Sintya Christy L


0 komentar:
Posting Komentar