Selasa, 05 Maret 2013

Menggantung Semangat di Puncak Pinang

"Tujuh belasan adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu. Karena pada momen itulah, panjat pinang ada."


Panjat pinang? Wah, jika mendengar kata ini yang terbayang di otak kita adalah oli, memanjat, injak-injakan lalu mengambil hadiah yang di gantung diatas. Panjat pinang ini disukai banyak orang baik anak kecil maupun dewasa. Begitu juga aku. Aku menyukai permainan ini karena memang mengasikkan dan memberikan kesan serta kenangan tersendiri kepadaku. Banyak kenangan yang tersimpan tentang permain yang satu ini. Mau tahu apa saja yang masih tersimpan di memori kenangan aku? Yok sama-sama mengingat kembali kenangan itu.
Di saat aku masih berumur sekitar 9 tahunan ,aku sudah sering mengikuti acara-acara yang diadakan oleh desaku ketika perayaan 17 Agustus. Mulai dari lomba balap karung, sendok kelereng hingga yang inti yaitu panjat pinang. Di saat itu badanku masih kecil karena memang masih berumur 9 tahun sehingga aku pun merasa minder untuk mengikuti panjat pinang ini. Namun, ternyata aku malah diajak oleh seorang kakak yang sudah dewasa untuk ikut bergabung bersamanya. Setelah berpikir dan dibolehkan orang tua, aku pun ikut bergabung dengan tim kakak. Permainan ini dimulai dari pukul 9 pagi. Semua tim sudah berkumpul dan siap memulai permainan.

Akhirnya permainan pun di mulai. Setiap tim di beri waktu 5 menit untuk berusaha memanjat pohon pinang yang telah dilumuri oleh oli tersebut. Jika belum berhasil maka diganti dengan tim selanjutnya.akhirnya tim aku pun mendapatkan giliran.kami bersemangat dan terus berusaha untuk saling bahu-membahu agar bisa mencapai puncak pohon pinang tersebut. Tidak sedikit dari kami yang terjatuh dan bergulingan karena tergelincir akibat oli tersebut. Permainan terus berjalan dan belum satupun tim yang bisa mencapai puncak. Kami masih berusaha menipiskan oli tersebut sehigga mengurangi licin ketika kami berusaha memanjat. Namun kami masih tetap gagal.  Begitu juga dengan tim yang lainnya.

Ketika matahari yang bersinar terang mulai menurun di arah barat sana, maka ketua tim kami pun menyusun strategi baru agar bisa mencapai puncak dari pohon pinang tersebut. Ketua tim kami membagi kami menjadi terpisah-pisah dengan tugas dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang ditugaskan menjadi tumpuan paling bawah yang berarti pondasi bagi kami, ada yang bertugas menahan agar tidak roboh, dan aku sendiri di tugas kan untuk berada di bagian paling atas untuk berusaha menggapai puncak pohon karena memang tubuhkulah yang paling kecil dan paling ringan saat itu. Giliran kami tiba, kami mulai menjalan kan strategi yang telah di atur tadi. Kami mulai memanjat dan menyusun diri kami agar tidak terjatuh. Setelah semua pemain memanjat akhirnya giliran aku untuk naik di bagian paling atas. Aku pun berusaha secepat mungkin untuk naik agar pemain lain masih sempat dan masih kuat untuk menopang tubuhku di atas. Tak perduli kepala yang tertendang, badan yang berlepotan dengan oli, bahkan wajahpun sudah berlepotan dengan oli. Namun aku terus berjuang karena aku tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan teman-temanku yang berada di bawah yang sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahanku agar tetap bisa mencapai puncak. Akhirnya aku berada di posisi paling atas, namun tanganku belum bisa menggapai kayu yang menjadi cabang di puncak karena tinggiku kurang sedikit. Aku pun berusaha menggapai cabang tersebut dengan melompat kecil tapi tetap tidak bisa sedangkan timku di bawah mulai merasa keberatan dan mulai sedikit oleng. Aku mulai bingung harus bagai mana dan mengambil keputusan apa.dengan doa bismillah aku pun meloncat dengan sekuat kakiku dan akibatnya membuat oleng pemain di bawah dan terjatuhlah tim aku. Namun keberuntungan masih menghampiriku, loncatanku sampai juga membuat satu tanganku untuk memegang cabang tersebut dan akupun dengan sekuat tenaga agar tidak terjatuh.para penonton ada yang menyemangati dan ada juga yang berteriak-teriak histeris karena seorang anak kecil kini tergantung di atas pohon pinang dengan satu tangan. Timku terus menyemangati. Akupun merasa lebih semangat dan aku tidak mau gagal. Dengan sekuat tenaga aku terus berusaha naik walaupun licin dan beberapa kali tergelincir. Akhirnya akupun bisa bernapas lega dan berteriak kencang ketika akupun bisa duduk di atas puncak pohon tersebut. Akhirnya akupun mencabut bendera yang tertancap di atas dan memilih-milih hadiah yang akan di ambil. Yeah! Kamipun memenangkan permainan ini dengan perasaan yang sangat bahagia. Dan aku sendiri pulang dengan membawa sebuah handuk dari hadiah yang aku ambil.

Permainan ini sekilas terlihat sederhana namun sebenarnya mengandung pesan yang patut kita tiru. Permainan ini mengajarkan kepada kita untuk bisa bekerjasama dengan baik, berjuang dengan  gigih,serta untuk bisa menerapkan strategi yang baik.

Kurnia Andria Kosim

gambar diambil dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar

 

T.O.G.E.T.H.E.R Copyright © 2011 Designed by T.O.G.E.T.H.E.R web hosting