Selasa, 05 Maret 2013

Tembak Kami Jika Bisa

"Kebersamaan adalah tentang kerjasama."

Hai, aku mau cerita nih waktu masih seumuran Sekolah Dasar, aku sering bermain dengan teman sekampung, permainan ini namanya cat-catan (tidak dibaca ket), dibaca cat karena permainan ini memang dari daerah sunda, hehe .

Permainan ini dimainkan oleh 2 kelompok dengan jumlah pemain minimal 8 orang, Saat permainan dimulai 1 kelompok pertama (sebut saja kelompok A) berlari untuk mencari tempat persembunyian dengan mempunyai tugas bertahan, dan 1 kelompok lainnya (sebut saja kelompok B) menunggu hingga kelompok A selesai bersembunyi yang biasanya dengan adanya teriakan “OOOLIEELIEEEEE....!” dari kelompok A. Setelah ada teriakan tersebut maka kelompok B mulai berpencar untuk menemukan kelompok A.

Syarat dari permainan ini adalah antara semua pemain harus mengetahui semua pemainnya. Karena apabila menemukan salah satu kelompok musuh maka orang yang menemukan itu harus menembak dengan menyebut kata “CAT *****” (* nama pemain lawan) sambil menunjuk, misal : “CAT ERISS..!” . Apabila sang penembak menyebutkan nama lawannya dengan benar maka lawan yang tertembaknya tersebut otomatis keluar dari permainan. Tetapi apabila yang menembak itu salah dalam menyebut nama lawannya maka orang yang ditembak berhak untuk menembak balik pemain tersebut,yang membuat si penembak pertama harus keluar dari permainan. Nah, disaat inilah masing masing kelompok memerlukan kerjasama antar pemain. Antar pemain harus bisa saling melindungi dari serangan lawan. Biasanya satu kelompok tersebut saling bertukar pakaian, sandal, sarung, dll untuk menipu pihak lawan.

Satu kelompok dikatakan menang jiga bisa menembak semua pemain lawan. Setelah selesai ronde pertama maka permainan diputar giliran, dengan giliran kelompok B yang mencari tempat untuk sembunyi.

Permainan ini biasanya dilakukan pada malam hari setelah selesai shalat maghrib dan mengaji qur’an di mesjid.


Eris Toni

 
gambar diambil dari sini

Coba Tangkap Aku

 "Dengan bersama-sama, semuanya akan jadi mudah."


"Angkat tangan!"

Beberapa orang menuruti kata-kataku. Rasanya sudah lama sekali aku mengejar sekelompok bandit ini. Tapi, mereka selalu lolos dari kejaran. 

Kali ini, mereka tidak bisa lari.

Aku keluarkan senjata dari kantungku lalu mulai berbicara lagi dengan mereka.

"Di mana tawanan yang kalian sembunyikan?"

Mereka hanya diam dan memasang wajah takut. 

"Kalian diam? Kalau begitu maafkan saya," kataku sambil mengarahkan senjata ke mereka.

"Kalian kalah...."

***

Itu tadi adalah sedikit bayangan tentang permainan yang sering aku mainkan dengan teman-teman. Biasanya setelah asar, kami berkumpul di satu lapangan dekat rumah dan mulai berdiskusi ingin main apa. Tapi tetap, aku menyukai permainan ini.

Mereka menyebutnya, "Polisi Bandit."

Bermain polisi bandit adalah hal yang menyenangkan. Mungkin karena dulu anak-anak seusiaku cukup banyak dan sering berkumpul di lapangan itu, jadi bermain polisi bandit menjadi lebih seru. 

Kami akan dibagi dalam dua grup. Polisi dan Bandit. Biasanya ada yang sukarela untuk menjadi polisi, namun tak jarang ada yang ingin menjadi bandit. Sebenarnya tidak ada peraturan resmi. Kedua tim saling mengejar satu sama lain.

Polisi akan mengejar bandit dan bila bandit dalam keadaan sendirian, maka ia akan dimasukkan ke dalam 'penjara' hingga menunggu teman lain menyelamatkan. Sebaliknya, jika polisi yang berjaga hanya satu, sang bandit bisa dengan mudah menangkap dan menjadikan polisi sebagai tawanan.

Hal yang seru dari permainan ini adalah kita bisa bekerja sama dengan teman-teman lain untuk mencari celah agar sang polisi sendirian lalu menangkapnya dengan cepat. Kalau aku sih, dulu, lebih suka menjadi bandit karena kebanyakan yang milih bandit. Kan seru tuh dikejar-kejar. Apalagi oleh cewek polisi.

Saya bercerita, mana ceritamu?

Bimo Rafandha

 
gambar diambil dari sini.

Jangan Rebut Kastilku!

"Kompak itu sederhana."


Kalian tahu permainan ini?

gambar diambil dari sini

Anak jaman sekarang pasti tahunya yang seperti itu. Permainan video games atau online games perang-perangan. Tapi, aku juga pernah bermain hal seperti itu loh saat aku kecil. Tentunya dengan teman-teman yang asli, bukan maya. :p

Perang-perangan adalah sebuah permainan jadul yang dulu sering sekali kita mainkan dan menggunakan strategi dan teamwork yang kuat. Selain itu, sebuah permainan yang menguras energy dan tenaga. Sebuah permainan yang melelahkan tapi mengasyikan.

Berdasarkan pengalaman nih bermain perang-perangan itu biasanya terdiri dari 2 tim atau bisa lebih.. Nah, anggota setiap tim itu tidak ditentukan kok berapa jumlahnya. Yahh berapa kamu maunya aja. Yang penting ada seorang raja yang memimpin istana dan seorang ahli strategi yang bertugas menyusun strategi dan prajurit-prajurit yang akan maju ‘berperang’.  

Biasanya senjata yang digunakan itu pedang-pedangan dari kertas karton atau kardus dan ketapel sebagai pengganti panahan atau dengan gumpalan kertas yang seakan akan adalah bom. :D

Biasanya bermain perang-perangan itu tujuannya untuk merebut kerajaan lawan (bukan merebut hati lawan loh #ehh). Siapa yang berhasil mengalahkan raja dan merebut kerajaan maka tim itu dinyatakan menang dan yang kalah akan menjadi sekutu untuk merebut kerajaan-kerajaan lain (jika lebih dari 2). Jika tidak, permainan berakhir atau memulai permainan baru dengan tujuan berbeda (balas dendam mungkin :3).

Untuk mencapai kemenangan tersebut tentu bukan usaha seorang diri dong ya. Kunci sukses dari permainan ini adalah strategi yang bagus dan apalagi kalau bukan kerja sama tim yang baik.. Strategi bagus tapi kerjasama timnya berantakan yah sama aja bohong. Tapi strategi yang biasa biasa aja kalau kerjasama tim nya 4 jempol sih masih bisa menang.

Setuju??

Jadi, mau ‘berperang’ bersamaku?

Diana Hastuti

Kakiku Kompak


"Hal yang paling membahagiakan dalam hidup adalah tertawa bersama orang-orang yang kita cintai."


Pagi cerah, 17 Agustus 2006.

Apa yang kusuka dari hari ini?
Hari ini libur nasional untuk umat Indonesia, hari bersejarah. Hari saat Indonesia diakui oleh dunia.
Hal yang paling oertama kulakukan. Bangun tidur tepat dengan senyum bangga berdiri di atas tanah Indonesia.

Pukul 7 Pagi.

Siap dengan semangat baru, hidup baru.
Keluar rumah, langit dihiasi penuh dengan warna merah putih.
Merah berani, putih suci, yah itu bendera kami.
Menghiasi langit pertiwi, tepat di kampung halamanku.
Hiasan-hiasan itu terpajang rapi apik dengan beraneka rupa.
Kreativitas disana sungguh tergambar nyata. :)

Penuh warna langit membiru, bercampur merah dan putih bendera Indonesia.
hari itu, list-list kegiatan telah menungguku :D

Itu adalah sedikit kata-kata untuk mewakilkan perasaanku saat tujuh belasan.
Dikampungku, sudah banyak antrian menunggu giliran pendaftaran lomba. *untung saya sudah daftar dari semalam #curi start. hehhehehehhe

Terlalu nafsu, atau apalah. Aku mengikuti seluruh perlombaan yang bisa aku ikuti. Bisa dikatakan aku mau memenangi lomba jadi dapat banyak kado. :D
dari banyak perlombaan yang aku ikuti, satu perlombaan yang sudah memikat aku, #cihuyyy...

Ini serius loh??
Permainan ini memang sebelumnya asing di telingaku,
Permainan khas yang hanya dilakukan pas momen ini, 17an(baca:tujuh belasan)
Pengen tau?

"Mmm...kasih tau gak yah??"
"Kasih tau ajalah?"
"Baiklah. Itu adalah permainan *drumroll* BAKIAK!!!"

Pernah denger?

Bakiak merupakan permainan menggunakan sebuah sandal dari kayu atau lebih bisa dikatakan seperti terompah panjang yang dibuat deret dari papan bertali karet yang panjang.
Sepasang 'bakiak' minimal memiliki tiga pasang sandal atau dimainkan tiga orang. Saat permainan berlangsung waktu itu, kebetulan bakiak kami memiliki 4 pasang.
Yupp.. pas untuk ayah, ibu, aku dan kakak perempuanku.

Tiba waktunya giliran kami mengikuti lomba. Jantung berdetak cepat antara gugup dan senang. Pelajaran pertama dalam permainan ini sungguh membutuhkan kekompakan satu sama lain jika tidak kompak maka kami semua akan jatuh.
susunan kami yaitu ayah didepan, aku nomor dua, ibuku nomor 3 dan kakak perempuanku urutan terakhir.

Ini aku kasih cara main permainannya:
Masukkan kaki ke bakiak berurutan kemudian dengan kekompakkan kaki kita melangkah bersamaan hingga mencapai garis finish.
Sebelumnya ayah memberikan aba-aba kanan kiri kanan kiri dan seterusnya.
Kaki harus kompak, kanan dulu melangkah baru kaki kiri, supaya kita semua tidak jatuh.

Pada saat perlombaan kami bersiap di garis start, ayah mengingatkan kembali, kanan dulu melangkah. kami semua mengiyakan.
saat perlombaan dimulai,

"Kanan kiri kanan kiri!!!.." ucap kami sekeluarga, menyemangati diri.

Selama lomba, sungguh aku kewalahan terkadang kaki terlepas dari tali karet di bakiak. Ayah cepat sekali jalannya, kami semua mencoba mengikuti ritme kecepatan ayah.

Saingan kami berat-berat loh!! Ada keluarga yang sudah besar-besar, gagah-gagah pula. Tapi tunggu, itu tidak menciutkan nyali kami. Saat garis finish sudah didepan mata, saat itu kami berada diposisi kedua. Sungguh keberuntungan saat itu belum berpihak pada keluarga kami,
kami masih tetap pada posisi akhir sebagai runner up, tapi kami tetap bersyukur.

Terlalu banyak kesanku terhadap permainan ini tapi yang jelas permainan ini adalah permainan yang saya mainkan bersama keluarga.
Permainan yang kental akan rasa kebersamaan.
Permainan yanng memupuk kerjasama tim.
Permainan yang penuh tantangan dan
yang terpenting ini merupakan permainan yang penuh suka cita.

Sekian cerita dari saya, share pengalamanmu.
Karena setiap pengalaman pasti memiliki arti, memiliki pesan dan memiliki kesan.



Trizaurah Armiani
 
gambar diambil dari sini

 

Menggantung Semangat di Puncak Pinang

"Tujuh belasan adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu. Karena pada momen itulah, panjat pinang ada."


Panjat pinang? Wah, jika mendengar kata ini yang terbayang di otak kita adalah oli, memanjat, injak-injakan lalu mengambil hadiah yang di gantung diatas. Panjat pinang ini disukai banyak orang baik anak kecil maupun dewasa. Begitu juga aku. Aku menyukai permainan ini karena memang mengasikkan dan memberikan kesan serta kenangan tersendiri kepadaku. Banyak kenangan yang tersimpan tentang permain yang satu ini. Mau tahu apa saja yang masih tersimpan di memori kenangan aku? Yok sama-sama mengingat kembali kenangan itu.
Di saat aku masih berumur sekitar 9 tahunan ,aku sudah sering mengikuti acara-acara yang diadakan oleh desaku ketika perayaan 17 Agustus. Mulai dari lomba balap karung, sendok kelereng hingga yang inti yaitu panjat pinang. Di saat itu badanku masih kecil karena memang masih berumur 9 tahun sehingga aku pun merasa minder untuk mengikuti panjat pinang ini. Namun, ternyata aku malah diajak oleh seorang kakak yang sudah dewasa untuk ikut bergabung bersamanya. Setelah berpikir dan dibolehkan orang tua, aku pun ikut bergabung dengan tim kakak. Permainan ini dimulai dari pukul 9 pagi. Semua tim sudah berkumpul dan siap memulai permainan.

Akhirnya permainan pun di mulai. Setiap tim di beri waktu 5 menit untuk berusaha memanjat pohon pinang yang telah dilumuri oleh oli tersebut. Jika belum berhasil maka diganti dengan tim selanjutnya.akhirnya tim aku pun mendapatkan giliran.kami bersemangat dan terus berusaha untuk saling bahu-membahu agar bisa mencapai puncak pohon pinang tersebut. Tidak sedikit dari kami yang terjatuh dan bergulingan karena tergelincir akibat oli tersebut. Permainan terus berjalan dan belum satupun tim yang bisa mencapai puncak. Kami masih berusaha menipiskan oli tersebut sehigga mengurangi licin ketika kami berusaha memanjat. Namun kami masih tetap gagal.  Begitu juga dengan tim yang lainnya.

Ketika matahari yang bersinar terang mulai menurun di arah barat sana, maka ketua tim kami pun menyusun strategi baru agar bisa mencapai puncak dari pohon pinang tersebut. Ketua tim kami membagi kami menjadi terpisah-pisah dengan tugas dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang ditugaskan menjadi tumpuan paling bawah yang berarti pondasi bagi kami, ada yang bertugas menahan agar tidak roboh, dan aku sendiri di tugas kan untuk berada di bagian paling atas untuk berusaha menggapai puncak pohon karena memang tubuhkulah yang paling kecil dan paling ringan saat itu. Giliran kami tiba, kami mulai menjalan kan strategi yang telah di atur tadi. Kami mulai memanjat dan menyusun diri kami agar tidak terjatuh. Setelah semua pemain memanjat akhirnya giliran aku untuk naik di bagian paling atas. Aku pun berusaha secepat mungkin untuk naik agar pemain lain masih sempat dan masih kuat untuk menopang tubuhku di atas. Tak perduli kepala yang tertendang, badan yang berlepotan dengan oli, bahkan wajahpun sudah berlepotan dengan oli. Namun aku terus berjuang karena aku tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan teman-temanku yang berada di bawah yang sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahanku agar tetap bisa mencapai puncak. Akhirnya aku berada di posisi paling atas, namun tanganku belum bisa menggapai kayu yang menjadi cabang di puncak karena tinggiku kurang sedikit. Aku pun berusaha menggapai cabang tersebut dengan melompat kecil tapi tetap tidak bisa sedangkan timku di bawah mulai merasa keberatan dan mulai sedikit oleng. Aku mulai bingung harus bagai mana dan mengambil keputusan apa.dengan doa bismillah aku pun meloncat dengan sekuat kakiku dan akibatnya membuat oleng pemain di bawah dan terjatuhlah tim aku. Namun keberuntungan masih menghampiriku, loncatanku sampai juga membuat satu tanganku untuk memegang cabang tersebut dan akupun dengan sekuat tenaga agar tidak terjatuh.para penonton ada yang menyemangati dan ada juga yang berteriak-teriak histeris karena seorang anak kecil kini tergantung di atas pohon pinang dengan satu tangan. Timku terus menyemangati. Akupun merasa lebih semangat dan aku tidak mau gagal. Dengan sekuat tenaga aku terus berusaha naik walaupun licin dan beberapa kali tergelincir. Akhirnya akupun bisa bernapas lega dan berteriak kencang ketika akupun bisa duduk di atas puncak pohon tersebut. Akhirnya akupun mencabut bendera yang tertancap di atas dan memilih-milih hadiah yang akan di ambil. Yeah! Kamipun memenangkan permainan ini dengan perasaan yang sangat bahagia. Dan aku sendiri pulang dengan membawa sebuah handuk dari hadiah yang aku ambil.

Permainan ini sekilas terlihat sederhana namun sebenarnya mengandung pesan yang patut kita tiru. Permainan ini mengajarkan kepada kita untuk bisa bekerjasama dengan baik, berjuang dengan  gigih,serta untuk bisa menerapkan strategi yang baik.

Kurnia Andria Kosim

gambar diambil dari sini.

Menggedor Gobak Sodor


Pada inget gak dulu, terutama waktu SD kita sering main permanan apa aja?
Atau kita ubah pertanyaannya, kalian inget gak permainan gobak sodor, petak umpet, ular naga, dan lainnya?

Kebanyakan dari kita mungkin lupa. Aku juga. Tapi, dari segala permainan itu, gobak sodor punya arti sendiri buatku.

Terus, apa itu gobak sodor?

Sebelumnya, yang perlu kalian tahu, nama permainan gobak sodor sendiri dipopulerkan di daerah jawa tengah, adapun nama lainnya seperti galah, hadang-hadangan, dan lain-lain.

Nah dulu aku suka banget main gobak sodor.
Apalagi jika sudah menjelang sore hari, biasanya aku dan teman-temanku berkumpul di lorong kompleks untuk bermain permainan ini.
Kalian masih ingat caramainnya?

Setiap orang punya cara yang berbeda-beda. Kalo aku dulu, biasanya ada 6-8 orang yang akan suit dulu untuk menentukan kelompok / grup (biar adil). Kalo sudah dapet kelompok, mulai deh 'pemimpin' dari setiap grup suit lagi, untuk menentukan siapa yang menjaga dan siapa yang main. Tempat  bermainnya sendiri dibuat petak-petak yang biasanya terdiri dari tiga atau empat wilayah.

Yang bermain duluan akan berusaha agar dia jangan sampai tersentuh oleh penjaganya, dan berusaha untuk menerobos ke pertahanan lawan yang paling akhir, dan apabila sudah mencapai ke pertahanan akhir maka kelompok tersebut menjadi pemenangnya. Namun apabila ada salah satu anggota dari kelompok yg main tersentuh oleh yang menjaga , maka kelompok tersebut akan menjadi yang jaga selanjutnya.

Gimana? Seru, kan?
Sayangnya, permainan itu sudah jarang ditemui.
Padahal, banyak sekali kegunaan permainan itu. Dulu sih hanya mengutamakan kesenangan saja. tanpa disadari bahwa banyak hal positif dari permainan tersebut.
Mau tau apa aja?

Yuk, sorot dulu nih.
1. manfaat pertama dalam permainan gobak sodor ialah kerjasama team setiap kelompok di prioritaskan, krena demi mencapai predikat menang dalam permainan tersebut harus mengutamakan strategi individu maupun kelompok
2. melatih kreatifitas kita, yaitu sebisa mungkin mencapai pertahanan terakhir dan jangan sampai tersentuh dengan penjaga
3. melatih kepercayaan diri kita
4. melatih kepemimpinan
5. melatih kekuatan dan kelincahan kita dalam mengecoh lawan :)

Ternyata kalau dipikir-pikir banyak sekali pengaruh positifnya dalam permainan2 jaman SD dulu, ya?

Tapi, gobak sodor tetap menjadi favoritku. ^^



Divi Deswanti Sardy

gambar diambil dari sini.

Sabtu, 02 Maret 2013

Melompat Lebih Tinggi



"T.E.A.M = Together Everyone Achieves More/Bersama semua orang mencapai yang lebih baik."


gambar diambil dari sini

Kangen sekangen-kangennya permainan yang satu ini.Ya,main karet.Kalau nama umumnya ‘lompat tali’,aku menyebut namanya ‘main karet’ karena istilah tersebut lebih terkenal di daerah asalku.Terus,di masa kecilku memang permainannya menggunakan karet gelang yang dipilin,pastinya karet yang dibutuhkan sangat banyak jumlahnya.Nah,aku bakal menceritakan sedikit tentang memori ‘main karet’ ku..

Masa Sekolah Dasar adalah masa yang sarat dengan bermain-main bersama teman-temanku dulu. Aku awalnya belum mengerti main karet karena susah amat -_- tapi berkat teman-teman yang selalu mengajarku bagaimana melompat,akhirnya aku bisa,mulai dari lompatan lambat hingga bisa melompat lebih cepat.Cuma itu aja teknik permainnya : melompat kalau tali karet berayun di bawah kedua kaki. Saat aku yang menjadi pelompat,maka dua orang temanku yang jadi pengayun talinya.Suatu ketika aku melompat,kedua temanku mengayun sangat kencang,nah disitu aku kewalahan,kok kencang amat ya..akhirnya tali itu tersangkut di kakiku. Kalah deeehhhh...heheheheh oh iya,main karet yang satu ini ada dua cara: cara sendiri (perorangan) dan cara berkelompok. Aku senangnya cara berkelompok,karena dengan cara ini,rasa kerja sama yang baik timbul,sehingga permainan terasa menyenangkan..

Jenis lompat tali yang aku maksud di atas adalah jenis skipping. Ada lagi jenis lompat tali lain,namanya lompat tali merdeka. Ini juga pernah aku mainkan dengan teman-teman masa kecil,bedanya dengan skipping adalah teknik lompat merdeka yang mengharuskan seorang pelompat untuk melompat setinggi mungkin. Kemudian,tali karet yang digunakan bukan diayunkan,tapi diregangkan dalam posisi diam dan ujung tali karet diletakkan di atas kepala,dagu,dan bahu.



gambar diambil dari sini


Ternyata,main karet punya manfaat positif,antara lain:
1. Motorik kasar
Main lompat tali merupakan suatu kegiatan yang baik bagi tubuh. Secara fisik anak jadi lebih terampil, karena bisa belajar cara dan teknik melompat yang dalam permainan ini memang memerlukan keterampilan sendiri. Lama- lama, bila sering dilakukan, anak dapat tumbuh menjadi cekatan, tangkas dan dinamis. Otot-ototnya pun padat dan berisi, kuat serta terlatih. Selain melatih fisik, mainan ini juga bisa membuat anak – anak mahir melompat tinggi dan mengembangkan kecerdasan kinestetik anak. Lompat tali juga dapat membantu mengurangi obesitas pada anak.

2. Emosi
Untuk melakukan suatu lompatan dengan ketinggian tertentu dibutuhkan keberanian dari anak. Berarti, secara emosi ia dituntut untuk membuat suatu keputusan besar, mau melakukan tindakan melompat atau tidak. Dan juga saat bermain, anak – anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa dan bergerak.

3. Ketelitian dan Akurasi
Anak juga belajar melihat suatu ketepatan dan ketelitian. Misalnya, bagaimana ketika tali diayunkan, ia dapat melompat sedemikian rupa sehingga tidak sampai terjerat tali dengan berusaha mengikuti ritme ayunan. Semakin cepat gerak ayunan tali, semakin cepat ia harus melompat.

4. Sosialisasi
Untuk bermain tali secara berkelompok, anak membutuhkan teman yang berarti memberi kesempatannya untuk bersosialisasi sehingga ia terbiasa dan nyaman dalam kelompok. Ia dapat belajar berempati, bergiliran, menaati aturan dan yang lainnya.

5. Intelektual
Saat melakukan lompatan, terkadang anak perlu berhitung secara matematis agar lompatannya sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan dalam aturan permainan. Umpamanya, anak harus melakukan lima kali lompatan saat tali diayunkan, bila lebih atau kurang ia harus gantian menjadi pemegang tali. Anak juga secara tidak langsung belajar dengan cara melihat dari teman – temannya agar bisa mahir dalam melakukan permainan tersebut.

6. Moral
Dalam permainan tradisional mengenal konsep menang atau kalah. Namun, menang atau kalah tidak menjadikan para pemainnya bertengkar, mereka belajar untuk bersikap sportif dalam setiap permainan. Dan juga tidak ada yang unggul, karena setiap orang punya kelebihan masing – masing untuk setiap permainan, hal tersebut meminimalisir ego di diri anak-anak

Ga nyangka aku udah remaja. Terimakasih buat masa kecil dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Terimakasih sudah mengajariku apa arti kerjasama melalui permainan ini. Ini akan jadi kenangan yang ga akan terlupakan..

Las Sintya Christy L



 

T.O.G.E.T.H.E.R Copyright © 2011 Designed by T.O.G.E.T.H.E.R web hosting